top of page

Sleep Apnea: Ketika Mendengkur Bukan Sekadar Masalah Tidur

15 Sep
5 menit membaca

Mendengkur sering dianggap sebagai hal yang biasa. Sebagian orang bahkan sudah terbiasa mendengar pasangan, anggota keluarga, atau teman sekamarnya mendengkur setiap malam. Selama orang tersebut tetap bisa tidur, mendengkur sering kali tidak dianggap sebagai sesuatu yang perlu diperhatikan.


Padahal, dalam kondisi tertentu, mendengkur dapat menjadi salah satu tanda dari sleep apnea, khususnya Obstructive Sleep Apnea (OSA). Kondisi ini bukan sekadar masalah suara saat tidur. Sleep apnea dapat menyebabkan seseorang berulang kali berhenti bernapas selama tidur dan, jika tidak ditangani, dapat memengaruhi kesehatan tubuh secara keseluruhan.


Apa Itu Sleep Apnea?


Sleep apnea adalah gangguan tidur yang menyebabkan pernapasan berhenti dan dimulai kembali secara berulang ketika seseorang sedang tidur.


Jenis yang paling umum adalah Obstructive Sleep Apnea (OSA). Kondisi ini terjadi ketika saluran napas bagian atas mengalami penyumbatan, sehingga aliran udara menjadi terhambat. Salah satu penyebabnya adalah otot di sekitar tenggorokan terlalu rileks ketika tidur sehingga saluran napas menyempit atau tertutup.


Ketika kadar oksigen menurun atau tubuh menyadari bahwa pernapasan terganggu, otak akan memberikan sinyal agar tubuh kembali bernapas. Proses ini dapat menyebabkan seseorang terbangun sebentar, sering kali tanpa benar-benar menyadarinya.


Akibatnya, seseorang dapat mengalami gangguan pernapasan berkali-kali sepanjang malam tanpa mengingatnya keesokan pagi.


Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa OSA ditandai oleh episode berhentinya atau berkurangnya aliran napas ketika tidur dan dapat menyebabkan penurunan kadar oksigen dalam darah.


Mendengkur Tidak Selalu Berarti Sleep Apnea


Penting untuk membedakan antara mendengkur biasa dan sleep apnea.


Mendengkur terjadi ketika aliran udara melalui saluran pernapasan menyebabkan jaringan di sekitar tenggorokan bergetar. Kondisi ini cukup umum dan tidak selalu menunjukkan adanya penyakit.


Namun, mendengkur yang sangat keras dan disertai periode ketika seseorang seperti berhenti bernapas perlu mendapat perhatian lebih.


Orang yang mengalami sleep apnea juga dapat terlihat seperti tersedak atau megap-megap ketika kembali bernapas. Pada malam hari, tidurnya mungkin tampak gelisah atau sering berubah posisi. Pada pagi hari, mereka dapat mengalami sakit kepala, mulut kering, atau tetap merasa lelah meskipun sudah tidur selama beberapa jam.


Masalahnya, orang yang mengalami sleep apnea sering kali tidak menyadari bahwa hal tersebut terjadi. Justru pasangan atau anggota keluarga yang tidur di dekatnya yang mungkin pertama kali melihat adanya pola pernapasan yang tidak normal.


Karena itu, komentar seperti ā€œkamu sering berhenti bernapas waktu tidurā€ sebenarnya bukan sesuatu yang sebaiknya langsung diabaikan.


Tidur Cukup Belum Tentu Tidurnya Berkualitas


Salah satu dampak sleep apnea adalah terganggunya kualitas tidur.


Seseorang mungkin tidur selama tujuh atau delapan jam, tetapi pernapasannya terganggu berulang kali sepanjang malam. Tubuh akhirnya tidak mendapatkan tidur yang benar-benar berkualitas.


Hal ini dapat menyebabkan rasa kantuk berlebihan pada siang hari, sulit berkonsentrasi, mudah merasa lelah, perubahan suasana hati, hingga penurunan kemampuan untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.


Dalam jangka panjang, gangguan tidur juga dapat memengaruhi keselamatan. Rasa kantuk yang berlebihan, misalnya, dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kecelakaan ketika berkendara atau melakukan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi.


Karena itu, sleep apnea bukan hanya persoalan apakah seseorang ā€œtidur nyenyakā€ atau tidak. Gangguan pernapasan saat tidur dapat memengaruhi fungsi tubuh ketika seseorang sudah bangun.


Siapa yang Lebih Berisiko?


Sleep apnea dapat terjadi pada siapa saja, termasuk orang yang masih relatif muda. Namun, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risikonya.


Berat badan berlebih merupakan salah satu faktor risiko yang penting karena jaringan lemak di sekitar leher dapat mempersempit saluran napas. Risiko juga dapat meningkat pada orang yang memiliki struktur saluran napas tertentu, seperti ukuran leher atau bentuk rahang dan tenggorokan tertentu.


Usia juga berperan, begitu pula dengan riwayat keluarga. Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol juga dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya gangguan pernapasan saat tidur.


Namun, seseorang tidak harus memiliki seluruh faktor tersebut untuk mengalami sleep apnea.


Itulah sebabnya mendengkur sebaiknya tidak hanya dinilai berdasarkan berat badan atau usia. Pola pernapasan ketika tidur dan gejala yang muncul pada siang hari juga perlu diperhatikan.


Dampaknya Tidak Berhenti Ketika Kita Bangun


Yang membuat sleep apnea penting untuk dikenali adalah dampaknya dapat melampaui masalah tidur.


Kementerian Kesehatan RI menyebut bahwa OSA yang tidak ditangani dapat berhubungan dengan berbagai masalah kesehatan, termasuk hipertensi, penyakit jantung, stroke, dan diabetes. Ketika pernapasan terganggu berulang kali, tubuh mengalami periode kekurangan oksigen dan respons stres. Jika terjadi terus-menerus, kondisi tersebut dapat memberikan tekanan pada sistem kardiovaskular.


Hubungan antara sleep apnea dan kesehatan jantung juga menjadi perhatian dalam dunia medis. American Heart Association menjelaskan bahwa OSA berkaitan dengan faktor risiko dan penyakit kardiovaskular, termasuk hipertensi dan stroke. Karena itu, menganggap mendengkur berat sebagai sekadar gangguan bagi orang di sebelah kita dapat membuat masalah kesehatan yang sebenarnya tidak terdeteksi.


Kapan Sebaiknya Diperiksa?


Tidak semua orang yang mendengkur membutuhkan pemeriksaan khusus. Namun, kombinasi beberapa gejala dapat menjadi alasan untuk berkonsultasi dengan dokter.


Mendengkur keras yang disertai jeda napas, tersedak atau megap-megap ketika tidur, rasa kantuk berlebihan pada siang hari, sulit berkonsentrasi, sakit kepala pada pagi hari, atau tidur yang terasa tidak menyegarkan merupakan beberapa tanda yang patut diperhatikan.


Jika dokter mencurigai adanya sleep apnea, pemeriksaan dapat dilakukan untuk mengetahui pola pernapasan ketika tidur. Salah satu pemeriksaan yang dapat digunakan adalah sleep studyĀ atau studi tidur. Pemeriksaan ini dapat dilakukan di fasilitas kesehatan tertentu dan, dalam kondisi tertentu, menggunakan perangkat yang memungkinkan pemantauan dilakukan di rumah.


Diagnosis penting karena penanganan sleep apnea sebaiknya disesuaikan dengan penyebab dan tingkat keparahannya.


Sleep Apnea Bisa Ditangani


Kabar baiknya, sleep apnea bukan kondisi yang harus dibiarkan begitu saja.


Penanganan bergantung pada kondisi masing-masing pasien. Pada sebagian orang, perubahan gaya hidup seperti menjaga berat badan, meningkatkan aktivitas fisik, berhenti merokok, dan menghindari alkohol dapat menjadi bagian dari pengelolaan kondisi.


Dokter juga dapat merekomendasikan penggunaan perangkat tertentu, seperti Continuous Positive Airway Pressure (CPAP), yang membantu menjaga saluran napas tetap terbuka selama tidur. Pada kondisi tertentu, pilihan lain seperti alat oral atau tindakan medis dapat dipertimbangkan.


Yang penting, seseorang tidak sebaiknya membeli atau menggunakan perangkat tertentu hanya berdasarkan informasi dari internet tanpa mengetahui apakah memang sesuai dengan kondisinya. Sleep apnea memiliki tingkat keparahan dan penyebab yang berbeda-beda. Karena itu, evaluasi medis tetap menjadi bagian penting dari penanganannya.


Jangan Anggap Remeh Mendengkur


Mendengkur memang tidak selalu berarti seseorang mengalami sleep apnea. Tetapi ketika suara dengkuran disertai jeda pernapasan, tersedak saat tidur, rasa lelah yang terus-menerus, atau kantuk berlebihan di siang hari, kondisi tersebut layak diperhatikan.


Tidur seharusnya menjadi waktu bagi tubuh untuk beristirahat dan memulihkan diri. Ketika pernapasan terus terganggu sepanjang malam, tubuh sebenarnya tidak mendapatkan kesempatan tersebut secara optimal.


Mengenali tanda-tandanya tidak berarti kita harus langsung menganggap setiap dengkuran sebagai penyakit. Justru, tujuannya adalah mengetahui kapan kebiasaan yang terlihat sederhana mungkin membutuhkan perhatian lebih.


Karena terkadang, masalah kesehatan tidak selalu muncul ketika kita sedang terjaga.


Bisa jadi, tubuh sedang memberikan tanda ketika kita sedang tidur. Dan mendengarkan tanda tersebut dapat menjadi langkah pertama untuk mendapatkan tidur yang lebih sehat.


Sumber:

Ā 
Ā 
Ā 

Komentar


VOGADIGITAL
2026

bottom of page