Penyakit Jantung di Usia Muda: Benarkah Hanya Mengancam Orang Tua?

Selama bertahun-tahun, penyakit jantung sering dikaitkan dengan usia lanjut. Bayangan tentang penyakit jantung biasanya adalah seseorang yang sudah berusia 50 atau 60 tahun, memiliki tekanan darah tinggi, atau sudah lama memiliki masalah kesehatan.
Karena itu, ketika seseorang yang masih berusia 20-an atau 30-an mengalami masalah jantung, banyak orang merasa terkejut.
“Masih muda, kok bisa kena penyakit jantung?”
Anggapan bahwa usia muda secara otomatis membuat seseorang terbebas dari risiko penyakit jantung ternyata tidak sepenuhnya benar. Kementerian Kesehatan RI bahkan mencatat bahwa penyakit jantung koroner kini semakin menjadi perhatian pada orang dewasa muda, termasuk individu berusia di bawah 40 tahun.
Usia memang merupakan salah satu faktor yang berkaitan dengan risiko penyakit jantung. Namun, usia bukan satu-satunya faktor yang menentukan kesehatan jantung seseorang.
Jantung Tidak Menunggu Kita Tua
Penyakit kardiovaskular merupakan salah satu masalah kesehatan terbesar di dunia. Menurut WHO, penyakit kardiovaskular merupakan penyebab kematian terbesar secara global, dengan sekitar 19,8 juta kematian pada 2022. Sebagian besar kematian tersebut berkaitan dengan serangan jantung dan stroke.
Yang perlu dipahami adalah proses yang menyebabkan penyakit jantung dapat berkembang jauh sebelum seseorang merasakan gejala.
Penumpukan plak di pembuluh darah, misalnya, dapat berkembang secara perlahan. Faktor seperti tekanan darah tinggi, kadar kolesterol yang tidak sehat, gula darah tinggi, merokok, kurang aktivitas fisik, dan pola makan yang tidak sehat dapat memberikan tekanan pada sistem kardiovaskular selama bertahun-tahun.
Karena prosesnya berlangsung perlahan, seseorang dapat merasa sehat dan aktif tanpa menyadari bahwa beberapa faktor risikonya sudah mulai terbentuk.
American Heart Association juga menekankan bahwa masa remaja hingga dewasa muda merupakan periode penting untuk mulai memperhatikan kesehatan jantung. Banyak anak muda sudah memasuki masa dewasa dengan faktor risiko seperti tekanan darah tinggi, obesitas, kolesterol tinggi, atau diabetes tipe 2.
Mengapa Risiko Bisa Muncul di Usia Muda?
Gaya hidup modern membuat beberapa faktor risiko penyakit jantung semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Kurang bergerak, terlalu sering mengonsumsi makanan tinggi garam atau lemak, merokok, menggunakan produk tembakau, kurang tidur, dan mengalami stres berkepanjangan dapat menjadi bagian dari rutinitas seseorang tanpa disadari.
Kementerian Kesehatan menyebut hipertensi, kadar kolesterol tinggi, merokok, diabetes, obesitas, pola makan tidak sehat, dan rendahnya aktivitas fisik sebagai berbagai faktor yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.
Masalahnya, sebagian besar faktor tersebut tidak selalu memberikan tanda yang terasa.
Seseorang bisa memiliki tekanan darah tinggi tanpa merasa sakit. Kadar kolesterol juga tidak dapat diketahui hanya berdasarkan bagaimana tubuh terasa. Begitu pula dengan gula darah.
Itulah mengapa merasa sehat tidak selalu sama dengan memiliki risiko kesehatan yang rendah.
Merokok dan Vape Juga Perlu Diperhatikan
Rokok sudah lama dikenal sebagai salah satu faktor risiko utama penyakit jantung. Namun, di kalangan anak muda, perhatian terhadap penggunaan vape atau rokok elektronik juga semakin relevan.
Kementerian Kesehatan memasukkan penggunaan rokok dan faktor gaya hidup tidak sehat sebagai bagian dari risiko penyakit jantung pada usia muda.
Penggunaan nikotin tidak seharusnya dianggap sebagai sesuatu yang tidak berhubungan dengan kesehatan jantung hanya karena seseorang masih muda atau merasa tubuhnya masih kuat.
Hal yang sama berlaku untuk kebiasaan lain yang dapat membentuk risiko secara perlahan. Satu malam begadang atau satu kali makan makanan cepat saji tentu tidak akan langsung menyebabkan penyakit jantung. Yang menjadi perhatian adalah ketika kebiasaan tersebut berubah menjadi pola hidup dalam jangka panjang.
Faktor Genetik Juga Bisa Berperan
Tidak semua kasus penyakit jantung pada usia muda dapat dijelaskan hanya dengan gaya hidup.
Riwayat penyakit jantung dalam keluarga juga dapat menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Beberapa orang memiliki kondisi atau kecenderungan genetik yang dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular atau menyebabkan kadar kolesterol tertentu menjadi sangat tinggi.
Karena itu, seseorang yang memiliki keluarga dengan riwayat penyakit jantung pada usia relatif muda sebaiknya lebih memperhatikan faktor risikonya dan mendiskusikannya dengan tenaga kesehatan.
Memiliki riwayat keluarga bukan berarti seseorang pasti akan mengalami penyakit jantung. Namun, informasi tersebut dapat menjadi alasan untuk lebih proaktif dalam menjaga kesehatan.
Penyakit Jantung Tidak Selalu Datang dengan Gejala yang Dramatis
Salah satu masalah terbesar adalah banyak orang membayangkan serangan jantung sebagai kejadian yang selalu sangat dramatis.
Padahal, gejalanya dapat bervariasi.
Rasa tidak nyaman atau tekanan di dada, sesak napas, keringat dingin, mual, pusing, atau rasa tidak nyaman yang menjalar ke lengan, bahu, punggung, leher, atau rahang dapat menjadi tanda masalah jantung. Kementerian Kesehatan juga mengingatkan pentingnya mengenali gejala jantung sejak dini.
Pada orang muda, gejala tertentu bahkan dapat lebih mudah disalahartikan sebagai kelelahan, masuk angin, kurang tidur, atau efek aktivitas fisik.
Bukan berarti setiap nyeri dada adalah penyakit jantung. Banyak kondisi lain yang juga dapat menyebabkan nyeri atau rasa tidak nyaman di dada.
Namun, karena serangan jantung merupakan kondisi yang membutuhkan penanganan segera, gejala yang mencurigakan tidak sebaiknya diabaikan hanya karena seseorang merasa dirinya terlalu muda untuk mengalami masalah jantung.
Pemeriksaan Tidak Harus Menunggu Sakit
Salah satu cara paling sederhana untuk mulai memperhatikan kesehatan jantung adalah mengetahui angka-angka dasar kesehatan kita. Tekanan darah, kadar gula darah, kolesterol, berat badan, dan pola aktivitas dapat memberikan gambaran mengenai beberapa faktor risiko yang dapat dikendalikan.
Hal ini menjadi semakin penting ketika seseorang memiliki faktor risiko tertentu, seperti riwayat keluarga, kebiasaan merokok, obesitas, diabetes, atau tekanan darah tinggi. Pemeriksaan kesehatan bukan berarti kita sedang mencari penyakit. Justru, pemeriksaan dapat membantu menemukan faktor risiko sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih serius.
WHO juga menekankan bahwa penyakit kardiovaskular dalam banyak kasus dapat dicegah dengan menangani faktor risiko seperti penggunaan tembakau, pola makan yang tidak sehat, kurang aktivitas fisik, tekanan darah tinggi, kadar gula darah tinggi, dan kolesterol yang tidak sehat.
Menjaga Jantung Tidak Harus Menunggu Usia 40 atau 50 Tahun
Menjaga kesehatan jantung sebenarnya tidak membutuhkan perubahan yang ekstrem.
Aktivitas fisik secara rutin, pola makan yang lebih seimbang, berhenti merokok, menjaga berat badan, mendapatkan tidur yang cukup, serta mengelola stres merupakan langkah yang dapat membantu menurunkan risiko penyakit kardiovaskular.
Yang terpenting adalah konsistensi.
Tidak ada satu makanan, olahraga, atau kebiasaan yang dapat menjadi “pelindung” tunggal bagi jantung. Kesehatan jantung merupakan hasil dari berbagai kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus.
Bahkan, kebiasaan yang dibangun sejak usia muda dapat memberikan manfaat untuk kesehatan di kemudian hari. American Heart Association menyebut masa dewasa muda sebagai periode penting untuk membentuk kebiasaan yang mendukung kesehatan jantung sepanjang hidup.
Jadi, Apakah Orang Muda Bisa Terkena Penyakit Jantung?
Jawabannya adalah ya.
Tetapi hal tersebut bukan berarti setiap anak muda harus hidup dalam ketakutan terhadap penyakit jantung.
Justru, memahami bahwa risiko dapat muncul lebih awal memberikan kesempatan untuk melakukan sesuatu sebelum masalah menjadi lebih serius. Menjadi muda memang memberikan keuntungan. Namun, usia muda bukanlah jaminan bahwa tubuh terbebas dari penyakit. Tekanan darah, kolesterol, gula darah, kebiasaan merokok, pola makan, aktivitas fisik, berat badan, stres, dan faktor genetik tetap dapat memengaruhi kesehatan jantung. Karena itu, menjaga jantung bukanlah sesuatu yang baru dimulai ketika seseorang memasuki usia lanjut.
Jantung tidak menunggu kita tua untuk membutuhkan perhatian. Semakin awal kita mulai menjaganya, semakin panjang kesempatan kita untuk hidup dengan jantung yang sehat.
Sumber:




Komentar